Kamis, 12 November 2009

Pesawat Kertas


Cerita ini bermula dari sebuah ruangan kantor yang hanya dihuni tiga orang pegawai, seorang gadis dan dua orang pemuda. Sekilas, kehidupan mereka tampak membosankan karena mereka selalu tampak mengerjakan hal yang sama setiap harinya. Yang terdengar sepanjang hari hanyalah suara jari mengetik dan telepon berdering, karena selebihnya mereka diminta untuk bekerja dengan tenang tanpa suara.

Karena bosan (tentunya), gadis yang dibesarkan oleh film-film Bruce Lee favorite ayahnya dan les karate yang ia pilih waktu menginjak sekolah dasar ketika sang ibu membujuknya untuk memilih sebuah kursus di luar jam sekolah, memutuskan kepribadiannya cukup menarik untuk dikenal kedua teman seruangannya.

Demi memecahkan keheningan, gadis itu iseng melemparkan sebuah pesan melalui pesawat kertas ke meja temannya yang berbunyi:

“Aku selalu ingin bisa menghentikan waktu. Kalau bisa punya kemampuan, kalian ingin bisa apa?”

Pemuda di sebelahnya membutuhkan waktu beberapa lama untuk mencerna maksud pesannya. Bingung dan tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu dari seseorang yang tidak pernah dia ajak bicara sebelumnya, namun akhirnya memutuskan untuk melanjutkan pesan gadis itu dengan kalimat:

“Aku ingin punya ladang ganja”

Dan tanpa berpikir lebih panjang lagi mengenai reaksi mereka yang akan membaca pesannya, ia menerbangkan pesan itu ke meja pemuda di sebelahnya. Pemuda yang satunya baru membaca pesan itu beberapa menit setelah pesawat kertas itu mendarat. Setelah terlihat keheranan, ia terlihat menulis dan menerbangkan pesawat kertas itu kembali ke meja gadis itu:

“Aku tidak tahu apakah ini bisa disebut sebagai kemampuan, tapi aku ingin   bisa menciptakan pil yang bisa mengobati patah hati”

Gadis itu tertawa geli dalam hati, senang melihat bahwa rekan kerjanya selama ini imajinatif dan senang karena keheningan bisa terpecahkan walau dialognya dilakukan lewat sebuah pesawat kertas. Iapun kembali menulis:

“Kalau begitu, mari kita mulai bekerja. Kini kita dapat bersenang-senang tanpa membuang-buang waktu lagi. Kamu tanam pohon ganja sebanyak yang kamu mau dan selama itu, aku akan menghentikan waktu.”

Pria di sebelahnya tertawa setelah membaca dan meneruskan khayalan itu agar tidak buntu dengan menulis:

“Sekarang aku sudah memiliki sepuluh hektar ladang ganja berkat kemampuanmu. Kepada siapa saja ya kita bisa membagikan keceriaan?”

Pria di sebelahnya kini langsung menangkap pesawat kertas itu sebelum sempat mendarat di mejanya dan melanjutkannya dengan bertanya:

”Kepada semua orang yang patah hati?”

Gadis itu tampak tidak sabar ketika menerima pesawat kertas itu kembali. Ia segera membuka lipatannya dan mulai membaca. Setelah berpikir cukup lama sambil mengulum ujung pensilnya, ia menulis:

”Tapi khan tidak ada yang perlu patah hati lagi, karena semuanya bisa diatasi oleh pil patah hati.”

Pria di sebelahnya mengangguk-angguk tanda setuju ketika membaca pesan itu dan menulis:

”Kalau begitu sekarang kita menghisap ganja dan bercinta dengan siapa saja”

Pria penemu pil patah hati merasa belum banyak menyumbangkan ide atas keceriaan yang sedang tengah dihidupkan oleh teman-temannya, berpikir keras dan menulis:

”Biar semua orang bebas bercinta dengan siapapun, aku akan membagikan pilku tanpa ampun”

Gadis itu tertawa dan menyandarkan diri ke bangkunya. Ia menutup mata dan seketika mereka bertiga sudah berada di tengah sepuluh hektar ladang ganja. Bahagia tertawa dengan banyak orang lainnya juga. Mereka bercinta bertiga, bergantian dan  bertukar pasangan dengan orang lain yang sedang bersantai sambil menghisap ganja. Mereka bersandar di bawah pohon dan matahari yang bersinar hangat. Mereka seperti sedang merayakan hari dimana mereka merasa begitu bebas. Di bawah langit merah muda yang dipenuhi oleh pesawat-pesawat kertas berterbangan. Mereka dan orang lain yang ada di sana bahagia menyadari bahwa umur mereka tidak akan bertambah tua dan mereka dapat melakukan ini setiap saat, gadis itu hanya perlu menghentikan waktu, temannya hanya perlu memetik daun ganja yang tumbuh subur di ladangnya dan teman yang satunya tinggal membagikan pil patah hatinya, dan mereka akan hidup bahagia. Dari kejauhan, tempat itu seperti surga.

Sampai tiba-tiba cahaya matahari meredup. Matahari mulai terbenam dan warnanya berubah menjadi senja. Mereka bingung dan bertanya-tanya, bagaimana mungkin ada pergantian hari bila waktu berhenti? Semua orang berpaling menatap tiga pegawai itu yang sedang terlihat kebingungan. Tiba-tiba ketiganya terhenyak dan terbangun di bangku kerja mereka masing-masing. Waktu sudah menunjukkan pukul enam petang. Saatnya pulang. 

Jakarta, 2004

3 komentar:

  1. "it is preferable to stoned before taken an ease of. this is sweet Ms.Lindhart... as well sticky."

    (Snr.Paolo Terra in the case of Lindmark&Lindtmark.)

    BalasHapus
  2. Thank you Felicisrecordationis :)

    BalasHapus
  3. Lucy in d sky with diamond

    BalasHapus